Mungkinkah Linux Menggantikan Windows?

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Linux berkembang dengan pesat hingga saat ini. Apakah Linux dapat mengikuti sejarah Firefox yang mulai menandingi Internet Explorer di statistik log kunjungan?

Kok mbandinginnya dengan cerita Firefox vs IE? yaH… mungkin kurang relevan, tapi paling tidak menunjukkan salah satu success story tentang tergusurnya produk Mikocok, Microsoft maksudnya, hehehe…

Jangan bandingkan dengan cerita sukses di luar negeri, karena ceritanya pasti beda. Yang saya bahas disini adalah bagaimana Linux dapat menggantikan Windows di Indonesia.

Selama budaya bajak membajak yang juga saya lakukan masih dipelihara, Windows menjadi lirikan yang menarik untuk digunakan. Saya pernah mencoba Ubuntu, Ubuntu yang terkenal paling plug-and-play, masih belum dapat saya gunakan dengan lancar gara-gara screen sizenya yang gak bisa di gede-in. Setelah saya cari sono-sini on-the-net, ternyata memang chipset VGA saya yang murahan tidak ada drivernya :((

Cara mempopulerkan Linux di Indonesia

Masa-masa sekarang ini adalah fase kritis pertumbuhan pengguna komputer (bukan internet) di Indonesia. Hampir setiap sekolah sudah dipasang komputer, paling tidak di ruang guru.
Apalagi dengan adanya dana BOS, banyak yang memilih membelanjakan perangkat keras daripada perangkat lunak. Karena dapat dilihat langsung barang belanjaannya klasik, tipikal.

Nah… kata kuncinya adalah: pengenalan, penyuluhan, atau sosialiasi sejak dini.

Seperti halnya upaya Telkom mengenalkan internet kepada masyarakat, begitulah seharusnya Linux juga dikenalkan. Mumpung para pemula komputer belum terbiasa dimanjakan oleh Windows, langsung aja dikenalkan dengan Linux.

Toh, saya rasa, tenaga yang dikeluarkan untuk mempelajari hal baru tentang komputer nilainya sama. Artinya, di posisi pemula, belajar Windows ataupun Ubuntu, sama-sama susahnya. Kalau sama-sama susah, kenapa gak dikenalkan yang bebas lisensi sekalian?

Masalahnya, siapa yang mau melakukan ini? yang mau susah payah peras keringat tanpa bayaran? Kalau internetkan sudah dibiayai Telkom, karena ada unsur bisnisnya.

Saya kurang tahu banyak dengan perkembangan Linux. Mungkin sudah ada gerakan-gerakan seperti yang saya maksud. Gerakan bawah tanah. Karena saya juga jarang apdet informasi.
Kalau kita lihat ciri khas Linux, komunitas! ya… komunitas adalah ujung tombaknya.

Seperti yang pernah teman saya tulis dimana saya lupa alamat posting-nya, salah satu cara bagi komunitas terutama di lingkungan kampus untuk turun ke bawah adalah:

Kuliah Kerja Nyata
Mahasiswa (khususnya jurusan Teknologi Informasi) jangan hanya mikirin bisnis doang, jangan KKN atau Kerja Praktek-nya di perusahaan melulu. Sekali-kali KKN dalam bentuk “sosial”, datang ke desa-desa untuk educate masyarakat gaptek agar melek komputer. Paling tidak bisa memberi penyuluhan, bahwa keyboard itu tidak nyetrum, hehehe…

Dan yang jelas, promosi tentang dunia open-source, baik secara implisit maupun eksplisit. Ajarin saya juga yach, karena kemampuan berLinux saya sungguh gak layak pakai :D
Akhirnya, suatu hari nanti, dan semoga saya masih punya umur untuk menyaksikannya, bangsa Indonesia memiliki budaya menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual, salah satunya dengan mau membeli produk Mikocok, atau kalau nggak mau, ya pake yang versi gratisan (Windows 20ribu perak :D)

Nah lo… bingung kan?
Mungkin jawabannya: mulai dari diri sendiri.kalau tidak berhasil? ya sudah

Your rating: None Average: 5 (1 vote)